Ku amati langit setiap sore, mendung bergulung yang kutemukan
Juga udara dingin yang turun dari nun disana
Berjalan menyusuri lorong dan gang diperkotaan
Hinggap di puncak gedung, menyusup di celah-celah ranting pohon, dan hinggapi tubuhku
Bersitadah aku dengan tabah
Menunggu burung bangau terbang saat gerimis nanti
Pulang keperaduannya di pinggiran kota
Masih saja tak ada rasa enggan untuk mengamati langit setiap sore
Meski lagi-lagi mendung bergulung yang penuhi pandang
Dengan tatapan nanar
Juga sedikit pertanyaan muskil
Seonggok rinduku bakan lebih besar dari gulungan awan
Namun, tak mampu menetes dan menjumpai bumi kekasih
Aku rasa
Langit sore adalah yang paling bahagia dari banyak kebahagiaan
Ia mampu membuat air yang jenuh dalam dekapannya menjadi tetes air sebagai cara untuk menyampaiakan rasa rindunya kepada bumi
Lalu bagaimana denganku?
Yang seperti rumput ilalang, berjubal di pinggiran jalan
Seonggok rinduku bahkan lebih lebat daripadanya
Entah tidak terlihat, atau memang sengaja dilewatkan