Selasa, 24 November 2015

Langit Sore



Ku amati langit setiap sore, mendung bergulung yang kutemukan
Juga udara dingin yang turun dari nun disana
Berjalan menyusuri lorong dan gang diperkotaan
Hinggap di puncak gedung, menyusup di celah-celah ranting pohon, dan hinggapi tubuhku
Bersitadah aku dengan tabah
Menunggu burung bangau terbang saat gerimis nanti
Pulang keperaduannya di pinggiran kota

Masih saja tak ada rasa enggan untuk mengamati langit setiap sore
Meski lagi-lagi mendung bergulung yang penuhi pandang
Dengan tatapan nanar
Juga sedikit pertanyaan muskil
Seonggok rinduku bakan lebih besar dari gulungan awan
Namun, tak mampu menetes dan menjumpai bumi kekasih

Aku rasa
Langit sore adalah yang paling bahagia dari banyak kebahagiaan
Ia mampu membuat air yang jenuh dalam dekapannya menjadi tetes air sebagai cara untuk menyampaiakan rasa rindunya kepada bumi
Lalu bagaimana denganku?
Yang seperti rumput ilalang, berjubal di pinggiran jalan
Seonggok rinduku bahkan lebih lebat daripadanya
Entah tidak terlihat, atau memang sengaja dilewatkan



Rabu, 20 Mei 2015

Saya



Hati saya rapuh
Bahkan lebih dari kayu yang lapuk
Walau sekedar disinggung dengan bahasa ringan
Apa lagi dengan pukulan keras dikeheningan

Tumbuhan tidak ada yang tahu
Bintang pun tidak melihat
Lautan yang ombaknya ramah menyapa pantai
Atau kejam menerjang karang
Tidak mengerti, karena
Apa yang diketahui berbeda dengan apa yang harus difahami

Fahami
Hati saya yang rapuh
Memahami lebih dari sekedar mengetahui
Lihatlah samudra hingga kau temukan palungnya

19.05.15

Rabu, 22 April 2015

Rahasia Malam



Malam ini kita; aku dan seorang kawan
Berbincang tentang rahasia malam
Bersama mendung yang menyelimuti bintang2
Sehingga mereka tak nampak, seperti rahasia yang sengaja disembunyikan
Betapa indahnya sebuah angan dan imajinasi yang selalu terlukis di setiap malam
Tentang rahasia itu
Dari kata ini dan itu, bermakna bahagia
Dari mimpi ini dan itu, semua seakan ingin dicapai segera
Ah... Berlebihan memang

Dia pun mulai bercerita dengan senyumnya merekah
Tentang rahasia malamnya yang kerap hadir, atau memang sengaja dihadirkan 
Kemudian dilanjutkan oleh ceritaku, meski tidak banyak
Karna memang imaji ku tidak sedang dikuasai oleh seseorang
Tidak begitu menarik untuk diperbincangkan

Rahasia malam
Terkadang menjelma seperti sebuah dongeng tanpa jawaban
Hanya berkelana, membelenggu pikiran
Berputar2, dan berlaga seperti yang diharapkan
Sebagai pelipur di kala kesepian
Untuk menghantar tidur dalam malam

Biar begini saja, tetaplah menjadi rahasia malam
Jika memang itu bisa membuat hati bahagia
Dari pada terluka pada kisah yang hadir dengan nyata
Membuat langkah kaki dipenuhi dengan air mata
Dimana dulu, aku sempat mengalaminya

Minggu, 15 Februari 2015

Sajak Daun



Ada senandung dalam lembayung jingga
Merasuk pada pori-pori dan membasahi berlapis tanah yang kering oleh musim
Meski tampak indah dan segar, namun tidak semua hidup mampu menikmatinya
Ada secabang luka yang membuat segala warna menjadi seolah tiada
Pada secarik kertas, aku tuliskan sejarah yang tak kan bisa ku lupakan
Tentang daun yang gugur di masa persemian
Terlepas dengan segala kehidupan yang selama ini ia agungkan
Meninggalkan semua mimpi yang ia citakan

Saat senja mulai mempersilahkan malam datang
Dan bintang menggantikan tahta siang
Beribu tetesan getah membasahi bumi berlaku biasa seperti air menuju muaranya
Terus dan terus menetes
Pertanda ada sebuah kehidupan yang sedang menanggung lara
Benar saja
Dengan gontai daun terlepas dari tangkainya
Merasakan angin yang berhembus dan menyentuh dingin tanah yang sebentar lagi menjadi temannya

Terlepas dari takdir merupakan kebinasaan
Namun apalah daya, ketika tak ada kata yang dapat mengembalikannya
Biar saja daun menyadari
Hidup dan kehidupan
Memang meninggalkan dan ditinggalkan
Meski ia kokoh memegang ranting
Kuasa Tuhan tak sebanding

Rabu, 11 Februari 2015

Januari Luka



Tiada kata yang mampu menjelaskan rasa
Apa yang bergejolak dalam dada tak mudah diungkap oleh bahasa
Meski bibir ini ingin bicara namun lidah terasa kelu untuk beraksara
Maka izinkan kubariskan kalimat dalam kertas yang tak seberapa
Semoga dapat mewakili bibir yang membisu dan hati yang lelah menahan pilu
Walaupun tak kan dapat membingkai semua keluh yang ada
Namun ini lebih baik daripada tak terucap satu katapun tentang rasa
Rasa yang entah apa namanya
Rasa yang membuat sekujur tubuh ini sakit namun tak mampu beraduh sakit

Aku mencintaimu, meski kau tak jarang menorehkan luka pada kalbu
Rasa yang pernah kuhiraukan
Ternyata mengakar lebih dalam
Tak dapat tumbang oleh angin dan kering oleh musim
Aku pahami setiap sapamu yang tersimpul tanpa rayu
Karna jelas terlihat dari sepasang matamu
Tak terkuas namaku dalam nuranimu
Ketika mata ini meneteskan air mata, tak sekalipun jemarimu mengusap
Hingga hati ini semakin pedih
Menyimpan lara yang menggerogoti asa

Melihat upaya dan jerihmu untuk dirinya
Aku seakan manusia bodoh yang mengemis cinta dari seorang tuan yang jelas tak akan memberiku satu pun keping emas
Meskipun begitu, aku masih tetap berdiri dengan harap bintang kan jatuhkan kebahagiaan
Sampai saat terakhir aku menghembuskan kehidupan yang penuh dengan kekelaman walau tidak malam

Senin, 02 Februari 2015

KAMPUNG HALAMAN



Aku berjalan merentangkan tangan
Merasakan udara nun sejuk di kampung halaman
Rasa basah embun pagi ini
Berhasil membuatku menggigil
Gemetar menahan dingin
Melawan angin
Dengan rasa ingin
Bertegur sapa dengan yakin

Kutangkupkan tangan merangkul diri
Mencipta kehangatan yang terkubur semasa pagi
Angin yang berhembus... Ahhh..
Ini hari yang cerah
Bisikan matahari yang bersinar mewah
Diwakili oleh cahayanya megah
Namun dingin tak terkira
Tetap bersahaja

Matahari
Hangatkan padi yang bersenandung
Bersama nyanyian burung
Hijaunya membuka mata yang kantuk
Lambaiannya menari-nari
Seakan ingin aku hampiri

Sampai saat aku berusia nanti
Suasana ini amat aku sayangi
Meski kaki ini tak selalu melangkah menghampiri
Namun kesannya terpatri dalam diri
Aku akan selalu merindu
Gelak tawa dan ramah warga
Di tempat ini
Terbukanya mataku yang pertama kali